Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, resmi menutup rangkaian Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Pendidikan 2026 di Depok, Jawa Barat, pada Rabu (11/2). Selama tiga hari, sosok yang akrab disapa Wamen Atip ini memimpin diskusi intensif untuk menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah. Ia menerima langsung sembilan rekomendasi strategis yang akan menjadi kompas baru bagi penguatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Wamen Atip menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang evaluasi untuk melahirkan aksi nyata. Beliau memiliki visi kuat untuk mewujudkan amanat konstitusi melalui pendidikan yang bermutu di seluruh pelosok negeri. “Kita harus memastikan setiap kebijakan memberikan dampak langsung bagi perbaikan tata kelola dan kualitas belajar siswa,” ungkapnya dengan penuh optimisme.
Dalam arahannya, Atip Latipulhayat mendorong pemerintah daerah segera mengintegrasikan hasil Konsolnas ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. Fokus utama beliau mencakup penguatan program Wajib Belajar 13 Tahun dan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) secara akurat. Atip meyakini bahwa keterlibatan tokoh masyarakat dan organisasi perangkat daerah (OPD) menjadi kunci suksesnya pemerataan guru berkualitas.
Tak hanya soal akses, Wamen Atip juga menyoroti pentingnya digitalisasi dan pemanfaatan teknologi masa depan seperti Kecerdasan Artifisial (AI) serta koding. Beliau menekankan bahwa guru harus mendapatkan pendampingan berkelanjutan agar mampu mengelola kesehatan mental murid sekaligus mengasah talenta mereka. Melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7K), Atip optimistis karakter generasi muda akan semakin tangguh.
Sinergi yang terbangun di bawah arahan Wamen Atip ini diharapkan menjadi landasan kuat untuk mendukung prioritas Presiden Prabowo. Konsolnas 2026 berakhir dengan kesepahaman bersama bahwa pembangunan manusia adalah tanggung jawab semesta yang harus terukur dan berkelanjutan. Penutupan ini menandai babak baru kolaborasi pusat-daerah dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang berdaya saing global.






