Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja menuntaskan evaluasi besar terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta, Selasa (9/12). Dalam penutupan acara tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyampaikan arahan tegas. Ia meminta agar mulai tahun 2026, MBG tidak lagi hanya berjalan sebagai program biasa, melainkan bertransformasi menjadi sebuah institusi dan budaya yang melekat di setiap sekolah.
Atip menilai kegiatan makan bersama dengan menu bergizi merupakan metode pendidikan karakter yang sangat fundamental. Siswa dapat belajar nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan empati saat mereka mengantre, mencuci tangan, hingga berbagi meja dengan teman. Lebih dari itu, program ini bertujuan meningkatkan literasi gizi siswa agar mereka mampu membedakan makanan sehat dan menghindari pangan ultra-proses yang berbahaya bagi kesehatan jangka panjang.
Kemendikdasmen mendorong seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk bekerja lebih strategis sebagai pusat keunggulan kemitraan. Para guru harus aktif mengintegrasikan materi edukasi gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ke dalam kurikulum pembelajaran. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa sekolah tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran gizi yang baik seumur hidup.
Direktur SMP, Maulani Mega Hapsari, menambahkan bahwa rapat koordinasi ini telah menghasilkan dua dokumen vital untuk pelaksanaan tahun 2026. Pertama adalah rekomendasi teknis untuk Badan Gizi Nasional terkait standar menu dan keamanan pangan. Kedua adalah peta strategi pendampingan agar UPT di daerah mampu mendorong pemerintah daerah mengalokasikan anggaran yang sinergis dengan program pusat.
Melalui strategi baru ini, Kemendikdasmen berharap MBG menjadi investasi nyata bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini hadir bukan sekadar untuk memberi makan, tetapi untuk membentuk kebiasaan sehat yang mendukung daya serap belajar siswa. Dengan sinergi yang kuat antara pusat dan daerah, gizi yang baik akan terkonversi menjadi prestasi akademik yang membanggakan.











