Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat galakan sekolah inovator lingkungan, menyerukan peran aktif sekolah dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis pangan global. Dalam acara SEAMEO Biotrop Outlook 2025-2026 di Jakarta, Senin (16/12), Atip menekankan bahwa satuan pendidikan harus bertransformasi menjadi pusat inovasi lingkungan. Menurutnya, bencana alam yang kerap terjadi belakangan ini membutuhkan respons cerdas melalui pendidikan karakter yang mengajarkan siswa untuk tidak hanya memahami, tetapi juga merawat dan memulihkan alam.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemendikdasmen menyoroti dua pilar inovasi pembelajaran ekologis, yaitu Agro-Eco-Edu-Tourism (AED) dan School of Biodiversity. Program ini bertujuan mengembalikan interaksi alami antara manusia dan lingkungan melalui pengalaman langsung di ruang terbuka, seperti pertanian tropis. Selain itu, peluncuran panduan kebijakan bertajuk “Memutus Rantai Sisa Pangan Sejak Dini” menjadi langkah strategis untuk mengajarkan siswa mengurangi sampah makanan (food waste) sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.
Pihak SEAMEO Biotrop menyambut baik dukungan pemerintah ini. Deputi Direktur Program SEAMEO Biotrop, Doni Yusri, menjelaskan fokus program tahun 2026 akan mencakup pengembangan model edukasi Geopark hingga integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk biologi tropis. Ia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, mulai dari universitas, dunia usaha, hingga sekolah-sekolah di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai bentuk apresiasi nyata, ajang ini juga mengumumkan pemenang SWARA Awards 2025. Penghargaan kategori Best Implementer jatuh kepada sekolah-sekolah yang konsisten menerapkan pembelajaran biodiversitas, antara lain SMA Negeri 2 Bogor, SMK Negeri 2 Metro Lampung, hingga SMP Negeri 19 Ambon. Sekolah-sekolah ini dinilai berhasil mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti pupuk organik cair, yang manfaatnya juga dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Salah satu penerima penghargaan, Wiyuda Tara dari SMK Negeri 2 Metro Lampung, mengungkapkan rasa bangganya atas apresiasi pemerintah. Ia menyebut program ini sukses memotivasi sekolah untuk melakukan urban farming dan pengelolaan limbah produktif. Senada dengan itu, Yusuf Kojiri dari SDN Kendal Jaya II berharap sekolahnya dapat menjadi pionir yang menyadarkan masyarakat bahwa sampah bisa menjadi berkah jika dikelola dengan sinergi yang tepat antara sekolah, orang tua, dan perangkat desa.





