
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, resmi menutup Konferensi Internasional Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) 2025 di Jakarta pada Rabu (12/11). Acara yang diikuti 220 peserta dari dalam dan luar negeri ini menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat literasi keagamaan lintas budaya. Dalam sambutannya, Wamen Atip menekankan pentingnya pendidikan sebagai ruang yang menumbuhkan toleransi, empati, dan dialog kritis di tengah tantangan kemanusiaan era digital.
Wamen Atip juga menyoroti peran guru sebagai agen perdamaian melalui pelatihan CCRL yang telah menjangkau ribuan pendidik sejak 2021. Ia menegaskan bahwa karakter peserta didik harus dibangun sejak dini melalui berbagai program Kemendikdasmen, termasuk G7KAIH, penguatan Guru Wali, dan modul kebinekaan yang telah diakses ratusan ribu guru. Di sesi terpisah, Kapuspeka Rusprita Putri Utami menambahkan bahwa pembentukan karakter generasi Z dan Alpha membutuhkan proses pembiasaan positif dalam seluruh ekosistem pendidikan.
Menutup konferensi, Wamen Atip mengajak negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama regional untuk menciptakan masyarakat yang inklusif dan berkeadaban sesuai ASEAN Community Vision 2045. Ia menegaskan bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan kekuatan bersama untuk membangun perdamaian global melalui kolaborasi antaragama dan antarbudaya.





